test 

Jaringan Advokasi LSM Papua Barat

Bahasa Indonesia   English
1 Juni 2012

Beritakan Demo, Kapolres Yapen Ancam Wartawan

Beritakan Demo, Kapolres Yapen Ancam Wartawan

Serui (1/6) ---- Beberapa wartawan yang bertugas di Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, mengaku kepolisian setempat mengancam tak usah menaikkan berita. Selain ancaman, polisi juga mengintimidasi, dan meneror. Para kuli tinta ini mengatakan mereka mendapat perlakuan itu lantaran memberitakan demo warga kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah(DPRD) setempat yang menuntut dilepaskannya John Nuntian, warga Wadapi yang ditangkap polisi karena diduga anggota Oorganisasi Papua Merdeka (OPM).

 

Kontributor surat kabar harian Bintang Papua di Serui,  Seo saat dikonfirmasi tabloidjubi.com, via telepon Jumat (1/6) mengaku dirinya mendapat intimidasi dan teror dari kepolisian setelah meliput berita demonstrasi yang dilakukan warga Wadapi ke DPRD Yapen untuk menuntut peristiwa penangkapan atas John Nuntian. 

Selain menuntut penangkapan tersebut, kata dia, warga juga menuntut perlakukan aparat terhadap warga diempat rumah yang ada di kampung Kainui sejak pukul 01.30 WIT dinihari pada Sabtu, 12 Mei 2012. Warga menuntut lantaran tindakan polisi dinilai melakukan kekerasan dansemena-mena. “Masyarakat menuntut DPRD jadi kami liput. Tapi, setelah demo, kami dapat teror,” tuturnya. Lantaran demikian, lanjut dia, berita tersebut sudah ditulis namun tidak dikirim ke redaksi untuk naik cetak. Sebenarnya berita tersebut menarik karena, sejak itu ada beberapa ibu yang mengikuti demo ditangkap polisi karena memakai baju bendera bintang kejora.  

Dia menandaskan, padahal berita tersebut diliput di lapangan terbuka yakni di depan kantor Dewan. “Sebenarnya berita ini harus dipublikasikan karena ditempat terbuka. Tapi, ya sudah,” ujarnya. Ia mengungkapan, mereka (wartawan) juga dituding menyampaikan berita yang bersifat mengadu domba masyarakat dengan pemerintah beserta kepolisian. “Kami dituduh provakasi dan adu domba dalam pemberitaan. Padahal, kami sudah konfirmasi dengan polisi waktu itu,” ujarnya lagi.

Seo menambahkan, dari perlakuan itu, hingga kini mereka tak leluasa malakukan peliputan. Mereka tak nyaman dengan kondisi yang ada. “Kami masih rasa tidak nyaman sampai sekarang.” tuturnya.

Tak hanya wartawan Bintang Papua yang mendapat intimidasi, teror dan tuidngan provokasi serta adu domba dari polisi. Hal serupa juga dialami wartawan RRI Serui, Ulis Makabori.  Menurut Ulis, pernyataan yang dikeluarkan polisi ketika itu tidak menyenangkan. Mereka mengatakan RRI memojokan polisi. Padahal, dalam demo itu ada tindakan yang tak menyenangkan dari kepolisian terhadap pendemo. “Ada unek-unek yang tidak menyenangkan. Tindakan itu diliput tapi polisi tidak terima,” ungkapnya.  

Dari laporan lain yang diterima, Ulis Makabori yang meliput berita tersebut juga mendapat intimidasi, karena dirinya menulis dan memberitakan segala peristiwa yang terjadi dilapangan saat demo terjadi. Ketika beritanya disiarkan keeseokan harinya, Rabu, 30 Mei 2012 dalam siaran Indoprima pagi pada pukul 07.00 WIT, salah satu anggota kepolisian Yapen mendengar berita itu. Anggota ini lalu melaporkannya ke Kapolres. Mendengar laporan ini, Kapolres dengan celana pendek dan menggenakan sandal jepit bersama beberapa anggotanya mendatangi kantor RRI untuk memprotes pemberitaan tersebut. Mereka bersenjata lengkap. Ketika tiba di kantor RRI, mereka langsung menemui wartawan Ulis Makabori untuk menanyakan soal siarannya tersebut.

Salomina Ayomi, wartawan RRI Serui yang juga rekan Ulis saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya mengatakan, saat itu warga mendatangi kantor DPRD namun dewan tak mengijinkan. Padahal sebelum demo, pendemo sudah memasukan surat ke Dewan. “Surat sudah masuk tapi, DPRD tidak terima. Mereka tolak. Akhirnya ada adu mulut dengan warga pengunjuk rasa,” ujarnya.

Tiba-tiba, lanjutnya, tim gabungan aparat TNI/Polri turun dengan senjata lengkap. Ada pembicaraan yang tak enak didengar ditelinga warga. Pembicaraan serta adu mulut dengan TNI/Polri itu yang dimuat oleh rekannya. Namun, polisi salah menafsirkan pemberitaan tersebut.Karena itulah, Kapolres Yapen dengan sandal jepit dan mengenakan celana pendek beserta puluhan anggotanya komplain ke kantor RRI. “Mereka komplain dan marah ke rekan kami Ulis. Tapi, masalah itu sudah diatur selesai,” ungkap Salomina.

Meski demikian, kata dia, hingga kini mereka masih merasa tidak nyaman. Tidak leluasa melakukan peliputan. Intimidasi dan ancaman teror masih menghantui mereka. “Kami masih merasa tidak aman dan nyaman karena masih ada teror,” tuturnya.

Menanggapi intimidasi yang dilakukan oleh Kapolres Serui ini, Ketua AJI Kota Jayapura, Victor Mambor, menegaskan bahwa tindakan intimidasi atau apapun bentuknya yang bertujuan untuk menghalangi tugas wartawan atau pemberitaan media massa tidak bisa dibenarkan.

"Itu tindakan yang bertentangan dengan Undang-undang Pokok Pers. Jika Kapolres Yapen merasa pemberitaan yang dilakukan wartawan tidak benar atau tidak sesuai fakta, seharusnya ia menggunakan hak koreksi atau hak jawabnya. Bukan dengan cara mengintimidasi wartawan." kata Victor Mambor.

Victor Mambor berjanji akan melanjutkan informasi ini kepada Kapolda Papua agar bisa membina bawahannya dalam berinteraksi dengan insan pers.

Dari laporan yang diperoleh tabloidjubi.com, Jumat (1/6), di Selasa 29 Mei 2012, warga yang mengatasnamakan diri dari Negara Republik Federal Papua Barat melakukan aksi demo ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kepulauan Yapen. Kala itu, warga datang ke DPRD pada pukul 09.00 WIT. Warga itu datang ke DPRD untuk menyampaikan aspirasinya dan dua belas tuntutan. Titik kumpul di kala itu daerah Kaboena, Mariadei dan ketiga di daerah Mantembu.

Ditiga titik tersebut, ada tiga kasus yang terjadi. Dititik kumpul pertama di kampung Kaboena, ada salah seorang ibu bernama Lea Kumbubui ditangkap polisi karena memakai baju bendera bintang kejora. “Jadi, waktu itu dia ditahan dari pukul 09.00 WIT sampai di Polsek kelapa dua Serui lalu dipindahkan ke Polres Serui sampai pukul 22.00 WIT baru dipulangkan”

Kasus kedua menimpa ibu Maya Mangge yang juga mengalami hal serupa yakni ditangkap polisi dititik kumpul kedua di daerah Mantembu. Maya ditangkap karena memakai baju bintang kejora seperti rekannya. Kala itu, polisi menyuruh Maya membuka bajunya karena bajunya berlambang bendera bintang kejora.

Kasus ketiga, polisi menangkap ibu Maya Kumbubui. Kumbubui ditangkap karena ia juga memakai baju bendera bintang kejora. Ada satu kasus lagi, ada seorang warga laki-laki, digiring paksa oleh polisi ke Polres Yapen. Di kantor polisi, lelaki itu diintimidasi lalu anggota polisi mengambil uang miliknya sebesar Rp. 502.00 (lima ratus dua ribu rupiah). “Uang itu diambil oleh salah satu oknum anggota polisi,” ujar salah satu warga pendemo yang enggan menyebutkan indentitasnya. Hingga berita ini ditulis, belum ada komentar dari Kepolisian Resort Kepuluan Yapen ataupun Kepolisian Daerah Papua. (Jubi/Musa Abubar) 

Share on Facebook      

Artikel

2 Mei 2014
226 RIBU HEKTAR HUTAN PAPUA BAKAL “DIKEROYOK” TUJUH PERUSAHAAN NASIONAL   Jayapura, 1/5 ( Jubi ) –Hutan Papua seluas 225.944 hektar atau hampir 226 ribu hektar dipastikan bakal tergusur dan beralih fungsi ...
25 April 2014
KORUPSI ANGGARAN SOUVENIR KULIT BUAYA, MANTAN BUPATI MERAUKE DIVONIS SATU TAHUN PENJARA Jayapura, 24/4 (Jubi) – Terbukti korupsi anggaran souvenir kulit buaya, mantan Bupati Kabupaten Merauke, John Gluba Gebze (JGG) divonis satu t ...
24 April 2014
DAKWAAN TAK SINKRON, CALEG NASDEM BEBAS DARI PIDANA PEMILU Jayapura, 23/4 (Jubi) – Caleg partai Nasional Demokrat (NasDem) untuk DPR Papua, Nurhaida divonis bebas oleh Pengadilan Negeri Klas IIA Jaya ...
24 April 2014
TIM ASISTENSI RUU OTSUS AKAN BERTEMU KEMENDAGRI Jayapura, 23/4 (Jubi) – Dalam waktu dekat tim asistensi Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemerintahan Otsus di Tanah Papua akan bertemu pihak K ...
23 April 2014
SEPARUH KEKUATAN POLRES, SIAP AMANKAN PLENO KPU DI PAPUA Jayapura, 24/4 (Jubi) – Kepolisian Daerah (Polda) Papua siap mengamankan pleno KPU di tingkat Kabupaten Kota dan Provinsi, personil di siagaka ...

Login



 



Forgot Password

Shoutbox

18-09-2014 15:14
ujang
kpk segera usut bantuan dana banjir bandang wasior dan dana RR 156M
18-09-2014 15:12
ujang
kajari mkw,mana tindak lanjut kasus RR banjir bandang wasior dlm pembangunan huntap
18-09-2014 15:10
ujang
kapolda kok ng usut kasus solar ilegal 65 ton diwondama,kasusnya spt masuk peti es
09-09-2014 01:02


09-09-2014 01:01


09-09-2014 01:01


09-09-2014 01:01


07-09-2014 03:13
Putra
Dalam satu bulan terakhir, terjadi indikasi korupsi oleh pejabat sementara Dinas Tenaga Kerja dan Tarnsmigrasi Kab. Manokwari atas nama Nico Nussy senilai ratusan juta hingga milyaran rupiah.... sumber staff Dinas tenaga kejra - transmigrasi Kab. Man
06-09-2014 13:41


06-09-2014 13:39


Nama :
Pesan :

Kontribusi

Banner Anda

Ukuran : 170px x 40px
Harga : Rp. 300.000 / bulan
Hubungi : (0986) 212392, 081340796997, 081248648965, 081344661392
Info lebih lanjut

 

Kegiatan

Tidak ada Kegiatan untuk saat ini.

Info LSM

Info

Jajak Pendapat

Menurut anda, wajarkah seorang pejabat di dinas terkait suatu instansi meminta fee hingga 40% dari seorang kontraktor/pengusaha asli papua?


 

 

Arsip


Info LSM

Statistik

Page Hit

Hari Ini 841
Minggu Ini 7192
Bulan Ini 841
Tahun Ini 541957

Jumlah Pengunjung

Hari Ini 796
Minggu Ini 7047
Bulan Ini 796
Tahun Ini 501790